Terbaru! Cerpen Cinta Sejati "Setangkai Bunga di Tebing Gunung"

cerpen cinta
Hai Bro/Sis... Khusus buat kamu yang gemar membaca cerpen tentang cinta, disini kamu bisa baca sebuah cerpen cinta sejati yang berjudul "setangkai bunga di tebing gunung" karangan seseorang yang bernama Nuril Agri Famela.

Selain itu kami juga memiliki koleksi cerpen yang lainnya, seperti:

Penasaran seperti apa kisahnya? Yuk simak cerita pendek terbaru tentang cinta sejati berikut ini:


Syifa Nisa Aulia, begitu nama lengkapnya. Aku memanggilnya dengan sebutan Bunda Nisa, karena Bunda telah mempunyai suami dan anak. Kehidupan keluarga Bunda begitu harmonis. Berbingkaikan cinta dan kasih sayang yang tulus serta diperindah dengan kemantapan iman mereka kepada Sang Maha Kuasa. Namun dibalik kebahagiaan yang Bunda rasakan bersama suaminya, ternyata rumah tangga mereka pernah diguncang oleh prahara rumah tangga yang membuat Bunda berkeinginan untuk bercerai dengan suaminya. Syukurnya Allah memberikan jalan untuk masalah mereka.

Setelah menamatkan S1 di FKIP Matematika, Bunda diterima menjadi guru Matematika di salah satu SMP yang ada di daerah ku. Bunda mulai mengajar di SMP tersebut pada tahun 2002. Aku menjadi murid Bunda pada tahun 2008, saat aku kelas 2 SMP. Aku senang belajar Matematika dengan Bunda. Karena Bundalah aku menyukai pelajaran yang mengerikan bagi sebagian orang ini, termasuk aku. Sejak SD, aku tidak senang belajar Matematika karena rumit dan membosankan. Tapi, ketika aku bertemu Bunda semua berubah. Bunda dengan sabar dan semangat mengajarkan ku Matematika dan ia berhasil membuat ku cinta dengan pelajaran tersebut. Bundalah guru pertama yang merubah pandangan ku terhadap Matematika. Kini Matematika menjadi salah satu pelajaran favorit ku, sangat favorit. Itulah sebabnya aku memanggilnya bukan Ibu, tetapi Bunda. Jiwa keibuannya yang begitu hangat dan kesabarannya dalam menndidik dan memberikan ilmu kepada muridnya. Tidak hanya aku yang memanggilnya dengan sebutan “Bunda”, tetapi murid-murid yang lain pun ikut memanggilnya Bunda.

Sore itu jadwal aku dan 2 orang teman ku mengikuti pelajaran tambahan Matematika di rumah Bunda. Kami hanya bertiga karena teman-teman ku yang lain sedang tidak bisa mengikuti pelajaran tambahan tersebut. Setelah selesai belajar, aku, Lia dan Via hendak pamit pulang. Tapi ternyata di luar sana sedang hujan lebat, sehingga kami tidak bisa pulang. Bunda pun menyuruh kami untuk menunggu di rumahnya sampai hujan reda.
“Huuuh, lebat sekali hujan di luar sana ya Bun..”, kata Lia sambil menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya.
“Ia, tapi hujan itu rahmat dari Allah yang harus kita syukuri ya” kata Bunda.
“Betul betul betul betul..”, kata Via.
“Oh iya nak dingin-dingin gini asyiknya minum dan makan yang hangat-hangat kan, yuk bantuin Bunda sebentar di dapur!”, ajak Bunda sambil merangkul kami bertiga.

Di dapur, kami pun membantu Bunda membuat teh tarik. Sementara itu Bunda menggoreng adonan goreng pisang yang sudah Bunda buat siangnya. Butuh waktu 15 menit untuk menggoreng adonan tersebut. Setelah siap, kami pun menyajikannya di ruang keluarga Bunda.
“Wah, mantap banget Bunda. Bunda tahu aja deh kalau dingin-dingin gini asyiknya yang beginian, hehehehe”, kata Lia.
“Bunda goreng pisangnya uuueeenaaak banget, kayak yang diiklan-iklan gitu Bun, krenyes-krenyes, ajiiib..”, kata ku yang sedang menyantap goreng pisang buatan Bunda.
“Hahaha kalian paling bisa ya”, kata Bunda sambil menyantap juga goreng pisang tersebut.
“Lihatlah Bun, Via aja lahap banget makannya Bun, nikmat banget ya Via?”, kata Lia menggoda Via yang tengah asyik menyantap goreng pisang Bunda.
“Iiih Lia apaan sih, kan aku jadi malu..”, kata Via.
“Eeee gak apa-apa kok nak, habisin aja. Dibuatkan untuk dimakan..”, kata Bunda.
“Ouh iya Bunda, Ayah, kak Faddam, sama kak Husna pulang jam berapa Bun?”, tanya ku ke Bunda.
“Biasanya jam 5 sore mereka sudah pulang, mungkin karena hujan lebat mereka berteduh dulu”, kata Bunda.
Kak Faddam dan kak Husna sudah bekerja. Kak Faddam lulusan dari sebuah Universitas pada jurusan perminyakan. Sedangkan kak Husna seorang perawat di salah satu rumah sakit yang ada di daerahku. Kedua anak Bunda ramah dan santun kepada Bunda dan suaminya. Ini semua juga berkat didikan dari Bunda dan Sang suaminya.

“Bun, mau gak cerita gimana perjalanan kisah cinta Bunda dengan Ayah, hehehe soalnya Bunda terlihat harmonis banget. Boleh dong Bun bagi-bagi cerita sama kami, hehehe” kata ku kepada Bunda.
“Haha boleh, bener nih mau dengar cerita bunda?”, tanya Bunda.
“Mau Bun, kali aja kisah Bunda bisa menginspirasi kami, hehehe”, kata Via.
“Maklum Bun, Via lagi kasmaran tu Bun, hehehe” goda Lia kepada Via.
“Iiih Lia sok tau deh, udah-udah aku mulu yang dari tadi diledekin. Mending kita denger cerita dari Bunda, ”kata Via.
“Ia-ia jangan marah ya Via, aku kan cuma bercanda”, kata Lia.
“Aduuuh sudah teman-teman. Yuk kita dengerin Bunda bercerita, asyiiik..” kata ku. Bunda pun menceritakan kisahnya dengan Ayah.

Bunda mencintai Ayah karena sifat Ayah yang apa adanya. Bunda begitu menyukai perasaan nyaman dan tentram yang muncul di hati Bunda, ketika Bunda bersanding dengan Ayah. Meski Ayah tidak terlalu romantis, namun ia lelaki yang taat beribadah, tidak perok*k, rajin, lelaki yang bersih dan pekerja keras.

Bunda menjalani masa perkenalan dengan Ayah selama 2 tahun. Beda umur Bunda dan Ayah adalah 4 tahun. Setelah Bunda menjadi guru selama 1 tahun, Ayah pun melamar Bunda. Ayah yang saat itu sudah bekerja di salah satu perusahaan. Ayah dan Bunda pun memutuskan untuk menikah.

Setelah menikah hari-hari Bunda dan Ayah terasa berbeda. Hari-hari mereka terasa indah dan selalu ditaburi pesona cinta. Ditambah lagi pada usia pernikahan mereka 1 tahun, lahir seorang anak laki-laki tampan yang diberi nama Faddam Khaliq. Lengkap sudah rasanya kebahagian yang dirasakan Bunda dan Ayah.

Namun suatu hari ada sesuatu yang tidak nyaman yang dirasakan Bunda. Setelah 5 tahun menjalani rumah tangga bersama Ayah, Bunda merasakan kejenuhan dan lelah. Harus Bunda akui bahwa mulai timbul rasa bosan dan lelah dengan kehidupan rumah tangganya dan alasan-alasan Bunda mencintai Ayah dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Bunda juga mengakui bahwa ia wanita yang berjiwa sentimental dan benar-benar sensitif serta halus perasaannya. Saat itu Bunda merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan belaian. Tetapi semua itu tidak lagi Bunda peroleh dari Ayah. Ayah yang saat itu berbeda dari apa yang diharapkan Bunda pada awalnya. Rasa sensitif Ayah yang kurang, dan ketidakmampuan Ayah dalam menciptakan suasana romantis dalam perkawinannya telah memusnahkan semua harapan mengenai kehidupan yang ideal.

Suatu hari, Bunda memberanikan diri menyatakan keputusan untuk bercerai. Saat itu Bunda hanya berdua dengan Ayah di rumah, karena kak Faddam sedang berlibur di rumah neneknya.
“Mengapa?”, Ayah bertanya dan terkejut.
“Aku lelah, kamu tidak pernah memberikan cinta yang aku inginkan”, kata Bunda yang saat itu suasana hatinya sedang kacau dan emosi.
Ayah terdiam di depan komputernya mendengar pernyataan Bunda. Bunda melihat Ayah sedang mengerjakan sesuatu di depan komputernya, padahal ia tidak melakukan apa-apa. Bunda merasa begitu kecewa melihat sikap Ayah, seorang laki-laki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya. Bunda berfikir, “Apa lagi yang aku harapkan darinya?”
Dan akhirnya Ayah pun bertanya kepada Bunda, “Apa yang dapat aku lakukan untuk mengubah pikiranmu?”
Bunda menatap mata Ayah dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan, “Aku ada sebuah pertanyaan untuk mu. Jika kamu dapat menemukan jawabannya, maka aku akan mengubah pikiranku terhadapmu.”
Sejenak suasana menjadi hening, dan kemudian Bunda mengutarakan pertanyaannya untuk Ayah.
“Seandainya aku menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung, dan kita berdua tahu, jika kamu memanjat gunung itu kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk ku?”, tanya Bunda.
Ayah pun termenung dan berkata, “Aku akan memberikan jawabannya besok pagi.”
Hati Bunda saat itu langsung gundah mendengar ucapan dan reaksi Ayah yang tiba-tiba terasa dingin.

Keesokan harinya, Ayah tidak ada di rumah. Bunda pun menemukan selembar kertas dengan coretan tangan di bawah sebuah gelas susu hangat yang bertuliskan, “Sayaang, aku tidak dapat mengambilkan bunga itu. Tapi, izinkan aku untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama itu lantas menghancurkan hati Bunda. Bunda pun melanjutkan membacanya.
Sayang, disaat kamu lelah mengetik dan memasukkan nilai-nilai muridmu ke laptop, kamu terlihat geram karena kesalahan ketik yang sering kamu lakukan. Aku harus memberikan jari-jariku untuk membantumu mengetik dan menyelesaikan tugasmu. Sayaang, kamu selalu lupa membawa kunci ketika bepergian, dan aku harus memberikan kakiku supaya dapat menendang pintu dan membuka pintu untukmu ketika pulang.

Kamu sangat senang jalan-jalan keluar kota tetapi sering tersesat di tempat-tempat yang baru kamu kunjungi. Aku harus menunggu di rumah dan membantu mu agar dapat memberikan mataku untuk menjelaskan jalan melalui peta. Sayang, kamu selalu kelelahan setelah seharian mengajar untuk murid-muridmu dan mengerjakan tugasmu sebagai seorang istri dan ibu untuk anak-anakku. Dan aku harus memberikan tanganku untuk memijat kaki mu yang penat.

Sayang, kamu sangat senang membaca buku dan membaca artikel di laptop mu yang kamu dapat dari internet. Dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu. Aku harus menjaga mataku agar ketika tua nanti, aku masih dapat memotong kukumu dan mencabuti ubanmu.

Sayaang…Tangan ku akan selalu menggenggam tanganmu untuk menyusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang mekar dan indah seperti cantiknya wajahmu. Tetapi sayaaang ku, aku tidak dapat mengambil bunga itu untuk mati, karena… aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.

Sayangku, aku tahu diluar sana ada banyak orang yang mampu mencintaimu lebih dari aku mencintaimu. Untuk itu sayangku, jika semua yang telah kuberikan dengan tanganku, kakiku, mataku tidak cukup bagimu, aku tidak dapat menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.

Tiba-tiba air mata Bunda jatuh dan membasahi kertas tersebut, sehingga membuat tulisannya menjadi kabur. Namun Bunda tetap berusaha melanjutkan untuk membacanya.

Dan sekarang sayaangku, kamu telah membaca jawabanku. Jika kamu berpuas hati dengan semua jawaban ini dan tetap menginginkan aku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita. Aku sekarang sedang berdiri di luar pintu menunggu jawabanmu. Dan jika kamu tidak puas sayangku, biarkan aku masuk untuk mengambil barang-barangku, dan aku tidak akan menyusahkan hidupmu lagi. Percayalah, kebahagiaanku adalah kebahagiaanmu.

Bunda pun langsung lari keluar dan membukakan pintu. Di depan pintu Bunda melihat Ayah dengan wajah sendu sambil tangan memegang roti kesukaan Bunda. Saat itu Bunda menyadari tidak ada orang lain yang mencintai Bunda seperti Ayah mencintainya. Bunda pun memeluk Ayah dan menangis. Bunda meminta maaf kepada Ayah atas sikap Bunda yang kekanak-kanakan. Ayah pun memeluk dan mencium kening Bunda. Sungguh pagi itu sangat mengharukan. Bunda mendapat sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga.

Setahun kemudian, Bunda dan Ayah dikaruniai lagi seorang anak perempuan cantik yang diberi nama Husna Aulia. Bunda dan Ayah begitu bahagia. Kebahagian terasa lebih lengkap karena dalam kehidupan mereka dikaruniai dengan sepasang anak yang merupakan anugrah terindah dari Allah. Mereka berjanji akan saling menjaga keutuhan rumah tangga mereka.

“Nah, itulah nak kisah Bunda dengan Ayah. Bunda bersyukur kepada Allah yang telah mengirimkan Ayah untuk bunda. Bunda bahagia sekali. Bunda merasa Ayah pelengkap hidup bunda”, kata Bunda sehabis menceritakan kisahnya.
“Huhuhu Bunda mengharukan sekali, ternyata Ayah romantis juga ya Bun”, kata Via dengan wajah senang.
“Ia betul itu Bun, jarang-jarang Bun laki-laki zaman sekarang yang sesabar Ayah” balas ku ikut mengomentari.

Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore, hujan pun sudah berhenti. Ternyata di luar sana Ayah, kak Faddam, dan kak Husna sudah pulang. Ketika kami ingin berpamitan pulang, ternyata azan magrib berkumandang. Kak Husna meminta kami untuk menunaikan sholat Magrib berjamaah. Kami pun setuju, dan kami segera memberi kabar kepada kedua orangtua masing-masing untuk menjemput kami selepas magrib.

Selesai menunaikan sholah Magrib, orangtua kami masing-masing ternyata sudah menjemput kami. Kami pun berpamitan kepada Bunda dan sekeluarga.
“Bunda, Ayah, kak Faddam dan kak Husna, kami berpamitan dulu ya. Terimakasih untuk semuanya. Bunda, terimakasih ya Bunda untuk pisang goreng, teh tarik dan ceritanya, hehehe” bisikku ke telinga Bunda.
“Eheem, Nuril sama Bunda bisik-bisik apa itu”, tanya kak Husna.
“Hehehe, ada deh kak, rahasia kami bertiga dengan Bunda. Nanti kakak juga tahu, Bunda pasti cerita ke kakak kok, hehehe” kata ku dengan senyum.
“Ok deh, hehehe. Yudah hati-hati ya adik-adik pulangnya” kata kak Husna.
“Ok kak, yaudah Ayah, Bunda, kak Faddam, kak Husna kami bertiga pulang ya, assalamu’alaikum” kata ku.
“Wa’alaikumsalam, hati-hati ya nak”, kata Ayah dan Bunda.

Kami bertiga pun pulang. Aku merasa begitu terkesan dengan kisah Bunda. Aku berdoa semoga keharmonisan keluarga itu akan tetap terjaga hingga maut yang memisahkannya. Aku pun menceritakan hal tersebut kepada mama dan papaku. Aku juga berharap semoga keluarga ku juga harmonis. Aku begitu menyayangi mama dan papa ku. Bagi ku keluarga lebih penting dari segala-galanya.

Pelajaran yang aku dapatkan dari kisah Bunda adalah, cinta tidak harus di ungkapkan dengan bunga dan pengorbanan yang tampak besar. Ternyata ketulusan dan saling memahamilah yang paling terpenting. Cinta harus saling melengkapi dan menerima keadaan pasangan kita apapun itu dia. Cinta akan terasa indah dan sempurna karena hati satu sama lain selalu menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.


-------------------- E N D -------------------------


Demikian cerpen cinta sejati yang berjudul setangkai bunga di tebing gunung. Gimana, bagus kan ceritanya? Semoga ada hikmah dan manfaatnya bagi kita. *ref: cerpenmu.com
Terbaru! Cerpen Cinta Sejati "Setangkai Bunga di Tebing Gunung" | L. Sugiono | Rate: 5